Rabu, 12 Oktober 2011

*Superhero -Shortie-


Superhero

            Rie masih terdiam. Termenung didepan kaca yang memantulkan bayangan ayu dirinya. Tubuh yang sintal, rambut ikal, alis tebal, dan senyuman nakal yang kerap kali membuat rekan-rekannya yang lain kesal, semua ada padanya. Gayatri Abdi Kesuma. Itu nama aslinya. Nama yang membuatnya ditertawakan oleh hampir semua penghuni gedung ini. Hingga Mama Susan memberinya nama kota. Nama yang belakangan ini, paling populer diantara ‘nama-nama kota’ yang lainnya. Rie.
            Pria paruh baya berperut buncit itu sudah terlelap. Mendengkur, keras sekali. Pria yang disegani oleh hampir seluruh warga dari lapisan masyarakat di kotanya itu, tak akan berkutik bila berada disamping gadis molek tersebut. Puluhan bahkan mungkin ratusan juta uang mengalir. Membuat mama Susan senang, dan tentu saja teman-temannya berang. Rie melirik sinis ke arah pria itu. Dasar tua bangka gila, sudah bau tanah, bukannya bertobat malah semakin bermaksiat.
            Rie kembali menatap cermin. Tapi bukan wajahnya lagi yang terpantul. Melainkan si pria gagah itu. Bukan pria yang sedang mendengkur keras ini. Tapi pria gagah itu. Pria berjenggot tipis, dengan mata teduh yang selalu menunduk. Pria yang jarang berbicara tapi bibirnya selalu basah dengan nama tuhannya. Tuhannya? Tuhanku dan tuhannya sama kok, ucap Rie geli. Bedanya, tuhanku hanya ada dalam KTP dan Lebaran di kampung.
            Sekali lagi Rie menatap cermin bening di hadapannya. Kali ini bayangan yang keluar adalah bayangan dirinya. Memakai kebaya putih, cantik dan anggun. Ronte melati yang menjuntai dari sanggulnya bergoyang, setiap kepalanya menoleh. Dan pria gagah itu duduk tegap disampingnya, memakai baju adat jawa di sebuah pernikahan mereka yang meriah. Pria gagah itu, superhero-nya...
ΩΩΩ
            Rie masih ingat peristiwa seminggu sebelumnya. Dimana saat itu ia baru saja pulang dari kampung. Menjenguk emak yang sakit. Sekaligus menyerahkan uang bulanan untuk biaya sekolah si Tole, adiknya.
            Tengah malam Rie baru sampai di perempatan jalan, yang notabene jauh dari tempat kost-nya. Malam itu hujan turun deras, sedangkan Rie tidak membawa payung. Hampir separuh badannya basah.
            “Sendirian aja mbak? Tak kancani yo*?! He...he...”
Celetuk nakal dan menggoda terdengar dari arah belakangnya. Rie memutar balik tubuh moleknya. 4 sampai 5 pemuda dengan mata merah dan di kelilingi asap rokok memandangnya dengan wajah bodoh. Mata-mata mereka jelalatan menelusuri setiap senti tubuh Rie, dengan sesekali meneguk ludah, membuat Rie merasa jijik. Rie memalingkan wajahnya kesal. Berjalan menjauhi mereka.
            Tapi ternyata memang para pemuda begajulan itu memang memiliki maksud tidak baik dengannya. Mereka malah berjalan mendekati Rie, dan terus mengganggunya. Rie menyentakkan tangannya kesal saat salah satu dari mereka mulai berani merangkul pundaknya.
            Tindakan Rie ini jelas memicu kemarahan para berandalan itu. Mereka menyeret Rie ramai-ramai. Rie yang ketakutan hanya dapat berteriak, itupun tak lama, karena salah satu dari penjahat itu membekap mulutnya.
            Lalu, klise. Seperti cerita di film-film. Atau legenda-legenda jaman dulu. Seorang superhero datang, menolong putri yang di culik setan jahat. Dan saat itu pria gagah datang. Menyelamatkannya dari tangan para setan itu.
            Pria gagah yang tak banyak bicara. Pria gagah yang selalu menunduk. Pria gagah bermata teduh. Pria gagah yang... ah...
            Rie tak bisa pungkiri. Rie suka pada pandangan pertama. Rie jatuh cinta...
ΩΩΩ
            Rie masih menunduk. Mengusap pipi halusnya yang memerah. Mama Susan marah besar. Semua itu gara-gara Agnes. Pelacur keparat yang selalu dengki dengannya. Dan sekarang, ia tersenyum penuh kemenangan di pojok kamar Rie.
            “Mau kamu itu apa sih Rie?! Belum puas ngabisin uang mama buat bayar Mat Botok?! Mama kurang perhatian apalagi sih sama kamu?!” Teriak mama Susan lantang, kesal. Rie tahu mama Susan sebenarnya wanita baik, tapi apabila amarah menguasainya, maka jangan harap orang disekitarnya bisa bercanda dan tertawa.
“Apa kamu pikir Tuhan mau memaafkan orang-orang seperti kita? Kamu pikir kamu bakalan suci lagi kalau kamu ikutan pengajian? Atau kamu pikir kamu bisa membalaskan dendammu dengan berdoa pada Tuhan yang telah mengutuk kita karena kita di lembah hitam ini?! Nggak Rie, nggak!!” lanjut mama Susan dengan wajah merah padam.
            Mama Susan masih mengomel, Agnes masih tersenyum jahat. Dan Rie masih diam. Dia benar-benar tidak peduli lagi sekarang. Semua ini dilakukannya karena cinta. Walaupun semua orang selalu tak percaya kalau orang sepertinya juga bisa jatuh cinta, tapi Rie percaya, yang ia rasakan sekarang adalah rasa cinta.
            Fathur, ternyata adalah nama superhero yang kemarin menyelamatkannya dari gerombolan mat Botok. Anak tunggal pak Haji yang tinggal di gang depan rumah kost-nya ini. Jebolan pesantren ternama di daerah Jawa Timur. Membantu ayahnya untuk mengisi pengajian milik ibu-ibu pkk tiap bulannya.
            Rie tahu, betapa tak pedulinya ia saat pertama kali ia memasuki mushala yang tak begitu besar itu, disambut oleh dengungan suara berbisik dan tatapan sinis para nyonya tersebut. Rie berkonsentrasi pada satu hal. Bertemu sang superhero. Dan sama sekali tidak memperdulikan hal lainnya.
            3 bulan dilaluinya dengan mulus. Tapi tepat di bulan ke-4 minggu ke-2 atau lebih tepatnya lagi hari ini, Agnes memergokinya sedang memakai kerudung dan busana muslim. Dan semuanya berantakan, tak tersisa.
            “Kamu harusnya ingat Rie, kita semua disini karena makhluk yang bernama laki-laki itu! Kamu harusnya ingat itu!”
            Ucapan terakhir mama Susan menggema di kepala Rie. Menggaung lama. Menyibak memori pahit masa lalunya. Membuatnya kembali terjatuh dalam keterpurukan.
ΩΩΩ
3 bulan kemudian,
            Satu episode akan segera berakhir. Rie sudah memucat, tak dihiraukannya gedoran pintu yang semakin menjadi. Airmatanya telah kering seperti tenggorokannya. Sehingga berteriakpun ia tak mampu. Mungkin bisa, tapi untuk apa? Semuanya sudah terlambat sekarang.
            Rie masih menunggu. Menunggu nafas terakhirnya terbang di udara. Di penantiannya itu, slide-slide film akan roda kehidupannya kembali terputar. Seperti nostalgia yang pedih rasanya.
           
            Dee, itu panggilannya kala itu. Seragam putih abu-abu panjang yang lengkap dengan jilbabnya selalu terbalut rapi di tubuhnya. Wajah ayunya senantiasa menunduk. Anggota badannya selalu basah akan air wudhlu. Waktu-waktu Dhuha digunakannya untuk menangis, memohon ampun dan ke Ridho-an dari Tuhannya. Amanah sebagai Ketua Keputrian dijaganya dengan hati-hati. Ia benar-benar tak ingin kalau nanti jabatannya itu akan menyeretnya pada kemurkaan Tuhannya.
            Semua berjalan dengan tenang, tanpa gelombang kehidupan yang begitu keras dan kuat. Hingga saat itu. Saat ia melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya. Saat itulah liku pahit hidupnya dimulai. Semuanya berawal di situ.
            Kebutaan dan keluguan seorang Gayatri membawanya kedalam keraguan. Awalnya semua keragu-raguan itu masih bisa di atasinya. Tapi semakin hari, semakin berat tantangannya. Hingga hari itu tiba. Rie sudah 1800 berubah dari keadaan yang sebelumnya.
            Tak ada lagi kerudung. Tak ada lagi bacaan Al Qur’an. Tak ada lagi gembiranya menyambut Ramadhan. Semuanya berlalu dengan sikap dingin Rie. Berlalu tanpa makna. Rie betah dengan lingkungan barunya. Walaupun hati kecilnya mulai mersakan kekosongan-kekosongan aneh. Tapi tak diperdulikannya. Life must go on. And the time through away.
            Rie saat itu benci dengan cinta. Rie saat itu ingin merusak cinta. Rie saat itu tak pernah menghargai cinta. Dan itu terus berulang. Berlanjut. Dan berlalu.
            Hingga sang superhero datang. Menyelamatkannya, membawakan sebuah kepercayaan baru untuknya. Percaya kalau cinta itu ada. Dan cinta itu memang ada. Rie berusaha mempertahankannya. Ia berharap cinta itu bisa membebaskanya dari semua kelelahan dunia yang membebatnya di lingkaran setan ini.
            Tapi kembali nasib mempermainkannya. Kembali lagi cerita klise terulang. Pungguk merindukan rembulan. Cinta bertepuk sebelah tangan. Dan beberapa peribahasa lain yang menggambarkan keadaannya saat ini.
            Superheronya menikah. Dengan wanita yang lebih baik darinya. Wanita berjilbab lebar, dengan kacamata tebal dan gingsul yang menawan. Kisah klise terulang kembali. Mungkin penduduk Indonesia sering membacanya di antologi cerpen, atau novel atau film-film murahan yang tak mendidik. Tapi ini terjadi pada Rie. Disaat ia mulai percaya cinta. Disaat ia mulai menjaga cinta.
            Rie menangis walau airmata tak kunjung keluar. Kenapa Tuhan benci padanya?. Kenapa hidup berlaku tak adil padanya. Kenapa nasib mempermainkannya tanpa perasaan?. Kenapa? Kenapa?
            Rie meregang nyawa. Lalu senyap. Satu episode baru saja berakhir.

Selesai
            

*The Virus -Novel- Part 3


DUNIA YANG LAIN

A
h…minggu yang indah, matahari ramah sekali…Zha menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba mengisi penuh paru-parunya dengan oksigen segar yang tersebar di sepanjang perjalanannya.
Hari ini aku akan pergi ke perkampungan muslim itu…rasanya nyaman juga ya menjadi orang free yang nggak di kejar-kejar deadline ucap hatinya pelan.
Kaki Zha mulai menapaki jalan yang mendekati perkampungan muslim itu. Namun betapa terkejutnya ia ketika tiba disana.
“Ada apa…” gumamnya, perkampungan yang biasanya ramai, kini yang dihadapannya seperti kota mati tak bepenghuni. Rumah-rumah penduduk yang tertutup seakan menolak siapapun yang datang membuatnya terlihat seperti benar-benar sebuah kota mati.
Aduh, tanggung…lagian perutku sudah lapar nih…ucapnya dalam hati. Dengan modal nekat Zha menyelusuri jalanan desa. Kadang ia berjalan di pasir, kadang di tanahnya, tapi terkadang ia juga melalui bebatuan dan aspalnya. Kata Charlotte, perkampungan ini cermin dari kehidupan seabad yang lalu.

“Perkampungan muslim itu hanya berisi orang-orang purba yang tidak mau maju!!” ujar Charlotte sinis, ketika Zha bertanya tentangnya.
“Buat apa kesana anak bodoh ?!! Disana berisi orang barbar!! Seabad yang lalu dunia gempar karena ulah beberapa kelompok barbar mereka !! Kau mau mati?!!” lain waktu Charlotte malah menaluti-nakuti Zha dengan ceritanya tersebut.
“Mana yang kau percaya?! Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi?! Atau Artefak aneh beserta keajaibannya ?! Ketika kau membutuhkan bantuan?!!” Tanya Charlotte galak.
“Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi…” Ujar Zha kecil yang polos.
Lalu terukir senyuman kemenangan yang mengerikan dari mulut besi cy-bo milik ibunya tersebut.

Memang benar, sedari kecil, Charlotte berusaha membuat citra yang buruk para penduduk muslim di mata Zha. Setiap Zha kecil nakal, Charlotte mulai bercerita tentang para ‘bar-bar’ itu, yang tentu saja diberi bumbu agar Zha takut. 
Tapi, bila melihat kehidupan yang damai di pemukiman itu setiap naik AirTrans, pikiran seram tentang para muslim itu menghilang begitu saja.
Ekor mata Zha menangkap, Food Court di pinggir jalan yang memancangkan tulisan ‘Open’ di depan pintu kacanya.
Sambil berusaha menahan air liur yang hendak menetes, Zha melangkahkan kakinya kearah Food Court itu. Harum…gumamnya, ia mulai mengagumi kebun bunga disekelilingnya. Berpuluh warna menyatu membuat gradasi warna yang indah, belum lagi semerbak harum yang mewangi…hmm…
Zha mengetuk pintu kaca yang gelap tersebut.
“Permisi…”
Tak ada jawaban.
“Permisi…anybody here…?” ulangnya
Zha masih tak mendengar jawaban dari dalam sana. Aduh, gimana nih, mau terus apa pulang…tapi…kalau pulang pasti aku nggak kuat, ya udah lah, udah terlanjut nekat kok, ujarnya dalam hati memastikan perbuatannya tak akan menyulitkannya.
“Permisi…” ucap Zha sambil membuka pintu Resto mini tersebut.
Zha menatap ruangan disekelilingnya, wow, walaupun semuanya dikendalikan oleh komputer, tapi gambar 4D air terjun yang mengalir beserta suara air yang jatuh, dan harum alam bebas, serta sejuknya angin yang berhembus, hampir saja membuatnya lupa kalau ia sedang berada di sebuah ruangan tertutup sekarang.
“Assalalammu’alaikum…!!” tegur seseorang dari belakangnya sambil menepuk bahunya.
Zha hampir saja terloncat karena kaget. Ia membalikkan tubuhnya cepat. Di depannya berdiri sosok wanita berbaju panjang, dengan rok lebar menutupi separuh badannya, ditambah lagi kerudung hijau yang dipakainya yang membuatnya begitu.... ramai..., sedang tersenyum ramah padanya.
“Ma…ma’af…saya…saya mau beli makanan…” ujar Zha gugup.
“Baik, kalau gitu silahkan duduk, akan saya ambilkan daftar menunya…”
“Ng… tidak usah, saya hanya ingin makan NüBredz…” ujar Zha berusaha tersenyum menghilangkan kekikkukannya.
Wanita berkerudung itu tersenyum penuh makna.
“Maaf kami tidak menjual makanan seperti itu…”
Haaah?! Ga’ jualan NüBredz?! Yang bener aja, NüBredz itu kan penyebarannya universal, lagian itu kan makanan pokok hampir orang-orang sedunia. Ng…maksudku orang-orang sibuk ralat Zha pada dirinya sendiri.
“Karena kami tidak biasa memakannya, maaf ya nona, mungkin saya bisa menyediakan sepiring nasi goreng untuk anda…”
Apa katanya tadi? Makanan apa lagi itu? Jangan-jangan Charlotte benar lagi, jangan-jangan mereka mau membunuhku…hati Zha berkata was-was.
“Tenang, tidak beracun kok, mau minum apa?” ujar wanita berkerudung itu seakan tahu apa yang ada di dalam hati Zha.
“Ng… healthy Juice-Grape, adakan…?”
***

“Waaah, baru kali ini makan selezat ini…hmm…kenapa aku tak pernah tahu ada Food Court yang menjual makanan selezat ini ya..? hmm...enak banget!!!” Ujar Zha setelah menghabiskan nasi goreng miliknya.
Wanita berkerudung itu hanya tersenyum mendengar perkataan Zha.
“Ini kali pertama nona makan nasi goreng?”
“Yeah…this is my first time!! Oya, namaku Zha, dari SunScale, siapa namamu?”
“Nama saya Salsabilla, tapi panggil saja saya Salsa..selamat datang di Al-Azhar city, pemukiman warga muslim…” Ujar teman barunya menjabat tangan Zha.
“O…Salsa ya…” ucap Zha sambil tersenyum.
“Maaf, jika hari ini banyak warga kami yang tidak berkenan atas kedatangan orang luar…”
“Maksudmu aku?”
“Tidak…bukan…bukan hanya kau, tapi semua penduduk dari NewWell…”
“Aku nggak ngerti…?”
“Tiga hari yang lalu…”

***

Zha terpaku melihat pengumuman dari pemerintah yang ditulis memakai font super gede. Ia teringat cerita Salsa, teman barunya.
“…Entah kenapa, ia kembali dari NewWell dengan muka sudah babak belur dan baju compang-camping. Ternyata para pemuda NewWell town, memukulinya karena dia adalah seorang warga muslim…dan entah kenapa juga pemerintah menyebarkan isu bahwa peristiwa-peristiwa aneh itu kami yang mendalanginya…benar-benar sikap diskriminasi yang disesalkan. Di papan pengumuman depan masjid Al Ikhlas sudah ditempel nama orang-orang yang dicurigai sebagai pelaku kejadian-kejadian misterius itu,”
Tapi, apa benar para muslim ini pelakunya? Hatinya bertanya tak percaya saat membaca pengumuman beratas namakan pemerintah kota NewWell tersebut.

***

Hari sudah mulai gelap. Memang sih, pada dasarnya, NewWell town itu tidak pernah sepi, ketika malam tiba, para pebisnis Club malam mulai beraksi dan saling bersaing. Menghentak keheningan malam dengan musik keras yang membuat pendengarnya menggoyangkan anggota badannya. Tapi sayangnya Charlotte sudah bilang, kalau pulang terlalu malam, maka tak ada makan malam untuk Zha, apa boleh buat, jadi Zha harus pulang sebelum gelap.
Telinga Zha menangkap suara-suara aneh dari gang kecil di samping kirinya.
“Kalian pikir, kalian ini siapaku?! Bisa-bisanya mengatur hidupku seenaknya!!” 
“Memangnya kau mau hidup seperti ini terus, kau mau jadi seorang penjahat?”
Orang yang ditanya hanya diam mendengar pertanyaan lawannya tersebut.
“Ayolah Ling, kami hanya mau membantumu, toh ini juga demi kebaikan kita…” ujar lawannya memohon.
“Tentu saja…tentu saja aku mau jadi seorang penjahat…apabila hanya itulah jalan keluar dari hal ini…”
“Ling…”
Zha mencoba mengintip. Seru banget…liat bentar nggak ada salahnya kan? Ujarnya sedikit senang bercampur tegang.
“Ling, kalau itu maumu…baiklah…”
Bhuuzzz!! Mata Zha sedikit perih ketika angin kencang bercampur debu datang secara tiba-tiba. Namun, itu belum seberapa ketika ia melihat apa yang ada di hadapannya.
“Kalau itu jalan satu-satunya aku terima…” ujar orang yang dipanggil Ling itu dingin.
Lalu…Bhuuzzz!! Suara angin itu lagi, kali ini Zha berusaha agar kacamatanya tidak dimasuki debu lagi.
Zha menutup mulutnya ngeri, ketika angin itu tiba, orang yang dipanggil Ling itu berubah secara bertahap. Dan kini, kulitnya bukan lagi berwarna putih kecoklat-coklatan, melainkan hijau…seperti dedaunan. Sedangkan lawannya, sudah menunggunya dengan wajah setengah hewan buas, atau tepatnya lagi serigala. Lawannya walaupun tidak seluruh wajahnya menyerupai serigala, tapi bentuk rambut dan taringnya-lah yang meyakinkan Zha kalau itu adalah kepala seekor serigala.
Tiba-tiba si kepala serigala menyerang, menggigit tangan Ling yang sudah berubah. Ling meraung kesakitan, darah mengalir dari ujung pergelangan tangannya, menetes membasahai lantai di bawahnya.
Tiba-tiba saja manusia hijau…maksudnya Ling, mengehentakkan kakinya, dan melambung tinggi bagai dilontarkan keudara. Ternyata, kaki Ling berubah menjadi seperti daun lontar yang panjang dan besar, sehingga bisa membuatnya melambung ± 2 m dari permukaan tanah. Dengan gesit, Ling merubah tangan kanannya menjadi segerombol akar berwarna hijau pekat dengan duri tajam dan ujung akar yang lancip, mengulur cepat kearah lawannya, namun lawannya dapat menghindar dengan cepat. Sehingga serangan Ling meleset, mengenai tong sampah yang ada di belakang lawannya. Prang!!! Kotak sampah tua itu penyok dan bolong pada diameter tengahnya.
Pertarungan semakin seru ketika keduanya mulai saling memukul dan membalas, darah mulai terciprat dimana-mana, namun anehnya darah yang keluar seperti menguap, hilang begitu saja.
Semakin lama, pertarungan itu semakin memanas, Zha terduduk penuh ketakutan di pojok koridor dekat gang itu.
Zha merasa tidak kuat lagi melihat pertarungan yang menyeramkan itu. Ia berusaha berdiri, walaupun terhuyung. Kakinya menapaki jalanan mundur. Dan Praaang…!!! Tak sengaja, kakinya menyenggol tutup kotak sampah yang tergeletak dibelakangnya.
Zha menarik nafas dan menutup mulutnya ketakutan. Zha mencoba mengeluarkan nafasnya sepelan mungkin agar tak terdengar oleh kedua monster itu. Ia melirik ke arena pertarungan itu kembali. Kosong…kemana 2 orang itu? Tanyanya dalam hati.
“Kau mencariku? nona tukang intip?!”
Zha merasakan seolah-olah beribu jarum kecil dan tajam menusuki dadanya yang sesak karena oksigen yang tertahan. Zha memutar badannya perlahan. Dan raut ketakutan mulai terukir di wajah cantiknya.
“Waaaaaaaaaaaa…!” teriaknya ditengah ramainya malam ala NewWell.


***







Jumat, 22 April 2011

* Gak Nyangka -Novel 1- ini novel jaman gue masih Ababil, jadi rada blushing2 gimaanaaaa gituuu..wkkwkk..!

“C

ie…Dinda, yang lagi jatuh cinta nih ye! Dunia seakan-akan berubah jadi pink!” Celetuk Fania, jahil. Wajah Dinda memerah, ia mencubit lengan sahabat dekatnya tersebut. Fania tersenyum jahil

”Ya ampun yang lagi kasmaran, wajahnya merah semerah warna pink!” sambungnya. Wajah Dinda semakin memerah, tapi kali ini dia angkat bicara

“Ih! Kenapa harus warna pink gitu loh?! My love world is Blue lagi! Pink?! Ih…amit-amit!!” Jawabnya sambil merangkul pundak Fania. Fania menggeliat, mencoba melepaskan diri dari rangkulan Dinda.

“Aaaah, Dinda, Fania kan udah sering bilang, jangan rangkul-rangkul pundakku ini. Pundak ini hanya untuk orang yang paling istimewa!” gerutu Fania. Dinda melepaskan rangkulannya. Ia menatap Fania dengan tatapan jenaka.

“Oooo…jadi aku nggak istimewa ya?! Ya udah deh kita nggak usah bersahabat lagi!” Kata Dinda.

“Eeh…bu..bu..bukannya…bukannya gitu, maksudku, ng…kamu tahulah betapa nggak nyamannya aku kalau ada yang menyentuh bahuku dari dulu, Dinda … Dinda istimewa kok di hati Fania, eh jangan marah ya…kan cuma bercanda…” Kata Fania, cemas.

“Hi…hi…hi…ye! Fania kena!! 1-0 untukku!! Becanda lagi!! Mana mungkin sih seorang Dinda mau meninggalkan Fania yang merupakan sahabat terbaik sepanjang masa…”

“Aaah! Dinda nyebelin! Tega-teganya ngeboongin Fania!”

“Maaf, abisnya kamu tu paling gampang ditipu sih, jadi asyik aja!”

“Dasar!! Nyebelin!!”

“Eh terus, ngomong-ngomong orangnya tahu nggak kamu suka sama dia?” lanjut Fania melanjutkan percakapan mereka sebelumnya. Dinda menggelengkan kepalanya cepat. “Jangan pernah dan jangan sampai!” kata Dinda.

“Lho kok???” jawab Fania spontan. Dinda mengerling jenaka.

“Lho kok gimana? Buat apa aku ngomong sama dia, ini kan belum tentu cinta” jawab Dinda. Fania mengangguk lemah, walau sebenarnya dia tidak mengerti, ah…ya sudahlah, sebagai sahabat yang baik, aku harus menyatukan mereka berdua, tekad Fania dalam hati.

***

“Her, lo curiga nggak?” tanya Fahri pada teman sebangkunya, sambil terus mencatat tulisan yang ada di papan tulis.

“Curiga apa?” kata Heri balik bertanya, cuek.

“Ya ampun ternyata lo tu bener-bener polos ya man! Jadi lo sama sekali nggak tahu?”

“Curiga apa? Tahu apa? Ngomong tu yang jelas napa?!” kata Heri yang kini terlihat mulai kesal

“Lihat Fania, dari tadi gue udah mergokin dia ngeliatin elu! Makannya jangan terlalu serius belajar dong! Peduli dikit kek sama lingkungan sekitar, kalo kaya gini terus,jangan-jangan pas gue mati disamping lo, lo nggak tahu lagi!”

“Ya udah sono mati aja lo! Bersyukur gue nggak ngeliat lo pas lagi sakaratul maut! Lagian sebodo amat, mau si Fania ngeliatin gue kek, mau melototin gue kek, itu hak dia, mata-mata dia ini, asal dia nggak ngeganggu privacy gue, gue sama sekali nggak masalah!”

“Ya ampuuuuuun Heri!! Masih nggak ngerti juga ya lo itu?! Dia tu ngeliatin elo pasti ada sebabnya, entah dia suka, entah dia kesel, atau marah, masa lo sama sekali nggak penasaran sih?!” kata Fahri sedikit emosi

“Nggak,” jawab Heri enteng.

“Astagaaaa Heriii!!!” kali ini kesabaran Fahri habis, ia berdiri sambil berkacak pinggang.

“Fahri!!!” tiba-tiba terdengar suara pak guru memanggil cowok badung tersebut. Fahri tersentak kaget, ia kembali duduk di tempat duduknya. Waduh mati gue!! Keluhnya dalam hati.

“Fahri, kamu dengar bapak?” tanya pak guru sekali lagi, Fahri mengangguk.

“I..i,iya pak, saya de..dengar,” jawab Fahri ketakutan

“Kenapa kamu?”

“Ng…anu..itu…”

Heri tersenyum melihat kawannya yang kewalahan menjawab pertanyaan dari pak guru yang bertuubi-tubi. Rasain lo, gangguin gue sih! Katanya dalam hati.

***

“Mau es Ri?” Kata Heri menawarkan es-nya. Fahri melirik kesal ke arah Heri.

“Dasar!! gara-gara lo,gue jadi dihukum nih! eeeh…masih berani nawarin es lagi! Ya udah sini! gue haus nih!” kata Fahri, merebut es dari tangan Heri.

“Busyet deh!! Haus sih haus, tapi jangan kaya onta di padang gurun gersang gitu dong! Tapi…nggak pa-pa deh kasihan…kan lagi dihukum nih! ngepel koridor sekolah ! nggak keren banget, ngepel gitu loh! Ng… mau dibantu? Atau…butuh bantuan?” kata Heri dengan nada mengejek. Fahri melempar kain pel yang sedari tadi kerendem di bak air kotor ke arah Heri, Heri mengelak. “Reseh lo ya?! Kalo mau bantu, bantu aja, nggak usah banyak omong, ayo bantu!!!” jawab Fahri kasar. Tanpa diminta dua kali, Heri membantu Fahri mengepel. Setelah semua pekerjaan selesai, mereka berdua melepaskan penat di bawah pohon mangga.

“Eh Ri, ngomong-ngomong lo bener soal Fania…” kata Heri membuka pembicaraan.

“Emang kenapa?” tanya Fahri heran, mengapa tiba-tiba Heri membicarakan hal itu.

“Tadi gue ngecek lo boong nggak sama gue, dan ternyata setelah gue cek, ternyata…lo bener…gue mergokin dia ngeliatin gue..”

Rasanya saat itu Fahri tertimpuk bola yang sangat besar mendengar pengakuan dari Heri. Aduuuh ni bocah nyebelin banget sih, gue udah mandi keringet begini dia baru sadar kalo gue ngomong bener tadi,gerutu Fahri dalam hati.

“Wooi!! Fahri masih hidup kan?! Kok bengong sih?” kata Heri menggoyang-goyangkan bahu Fahri. Bukannya menjawab Fahri malah menjitak Heri.

“Dasar bocah tengil!! Gue udah keringetan begini lo baru sadar!! Seneng banget ya kalo liat gue jadi babu macam begini!!” kata Fahri kesal. Heri hanya tersenyum jahil.

“Lho…kok tahu sih…jadi malu…” celetuknya jahil. Fahri melotot mendengar jawaban yang tidak diduga-duga tersebut. Melihat ekspresi Fahri yang terlalu memaksakan diri itu, Heri buru-buru meminta maaf.

“Eeeh…sorry sih, just kidding lagi!! Jangan melotot gitu ah, jelek!”

Bukannya tambah reda, mata Fahri tambah dipelotot-pelototin hingga debu masuk matanya.

“Aduuuh Heri tolong dong tiupin mata gue, kemasukan debu nih!”

“Makannya jangan belagu, sini gue tiupin…puffh…”

“Waduh,niup sih niup tapi angin aja dong yang keluar, jangan sampe muncrat macam begini dong!”

“He…he…he…maaf nggak sengaja…”

“Ya! Gue maafin! Eh terus, reaksi Fania waktu ketahuan sama lo gimana?!”

“Nah, pas dia lagi ngeliatin gue, gue bales ngeliatin sambil sanyum dan melambaikan tangan eeeh…dianya malah memalingkan wajahnya…kayak kesel gitu deh, ya udah gue cuekin aja!”

“Bodoh!!”

“Apa katamu?”

“Bodoh, gimana nggak di bilang bodoh, lo sok Te Pe gitu! Gue aja males ngeliatnya apalagi si Fania, dasar bloon!”

“Te Pe?! Apaan tuh?”

“Gini nih orang yang nggak pernah masuk kota, hobinya observasi ke hutan mulu! Te Pe aja nggak tahu. Te Pe itu Tebar Pesona tahu!”

“Oooo….”

“Tapi…..”

“Tapi kenapa?”

“Dia kayaknya nyembunyiin sesuatu deh…gue juga nggak tahu apa…”

“Kira-kira apa ya?”

“Entahlah, yang pasti sesuatu yang misterius yang harus diungkap…”

***

“Dor! Hayo Fania ketahuan!” bentak Fahri di telinga gadis itu. Fania tersentak kaget, Ia berdiri dan menatap Fahri dengan tatapan kesal.

“Apa-apaan sih kamu! Ngagetin aja senengnya!” katanya kesal

“Sengaja, supaya lo lebih sehat, kan sport jantung!” jawab Fahri enteng. Fania tambah kesal mendengar jawaban yang menyebalkan yang diberikan oleh Fahri tersebut.

“Ye…bukannya minta maaf malah ngejawab lagi!! Sana minggir aku kepanasan kamu disini, sana pergi…hus…hus…” jawab Fania seraya mendorong Fahri menjauh dari mejanya.

“Iya deh iya nona manis, gue nggak ganggu lo lagi deh!!” kata Fahri memohon.

“Terserah, udah sana jauh-jauh dariku!!” kata Fania terus mendorong Fahri.

“Oke, lo ya yang ngusir gue jangan sampai nyesel lho! Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri kalau lo dari tadi ngeliatin si Heri, gimana ya kalau si Heri tahu?!”

“Ap…apa…kamu bi…bilang” kata Fania tergagap.

“Ya apa lagi?! Lo tadi ngeliatin si Heri kan? Dengan tatapan yang….wuih…ck..ck..ck…nggak bisa diungkapin dengan kata-kata”

“Tetep mau ngusir gue nih? Gue sih nggak apa-apa tapi kasihan elu-nya” lanjut Fahri. Kali ini dengan sikap mengancam. Kontan saja wajah Fania menjadi pucat mendengarnya. Waduuuh, cowok ini bener-bener usil, iseng, badung, jail, ngeselin, pokoknya nyebelin deh! Kata Fania dalam hati. Melihat Fania yang bengong, Fahri beranjak dari tempat duduknya.

“Ya udah gue pergi nih! daaah…”

“Eeeeh…jangan pergi dulu…sebenarnya kamu itu salah sangka…” kata Fania menahan Fahri. Ia memegang lengan Fahri kuat-kuat.

“Salah sangka?! Salah sangka gimana? Jelas-jelas gue liat elu ngeliatin si Heri”

“Oke-oke aku certain, tapi kamu jangan kasih tahu siapa-siapa ya…sebenarnya…….” Lalu Fania-pun mulai bercerita tentang Dinda.

“Kayaknya kita berdua harus melakukan sesuatu deh!” sambil melipat-lipat kertas yang ada didepannya.

“Kita berdua?! Nggak salah denger tuh? Nggak gue nggak mau!” sergah Fahri.

“Lho…tapikan…tapikan…Fahri udah tahu ceritanya, terus lagian kamu sahabatnya si Heri, please dong bantuin aku….” Kata Fania dengan wajah memelas. Sebenarnya Fahri hampir ngomong ya, tapi begitu lihat tampang melasnya Fania, timbul niat usilnya.

“Oke…tapi harus ada imbalannya, nah imbalannya buat gue apa?”

“I…imbalan? Aduh…Fahri kan tahu sendiri Fania itu selalu dibatasi…gimana Fania mau bayar Fahri…”

“Lo itu emang orang kaya yang medit ya! Bolehlah, tiap pagi diantar pake Freed, tapi untuk bayar gue aja nggak bisa! Dasar pelit!”

Daripada kamu, dasar cowok matre!! Kata Fania dalam hati.

“Terus gimana dong, kitakan berteman, saling bantu kenapa? tanpa pamrih…”

“No..no..no..ini bisnis…jadi harus ada imbalannya…”

“Ya…terus apa dong imbalannya ? kamu itu cowok jahat dan matre ya ternyata…”

“Dari dulu!! Ng…gimana kalo lo bayar pake tenaga lo?”

“Ma..maksud…maksudnya apa?”

“Gini gue kan kerja di sebuah toko buku, gimana kalo lo bantuin gue, tapi gaji lo, buat gue…setuju? Oke udah setuju, kerjanya hari Selasa, Kamis, Sabtu dari jam 14.30-20.30. gimana? Bisa? Bisa…baguss…”

Fania diam mendengar Fahri yang sedari tadi berbicara. “ Ker…ja?”

“Iya kerja, gampang kok, cuma ngangkat-ngangkat buku aja!”

“Ngang…kat …bu…ku…”

“Iya ngangkat buku, eh iya satu lagi, ini berlaku selama kerjasama kita berlangsung, oya gue cabut dulu ya, jangan lupa besok kan hari kamis, lo bawa aja baju ganti, kita langsung berangkat dari sekolah!” teriak Fahri dari kejauhan. Fania hanya bengong mendengarnya. “Ker…ja…ngang…ka…tin…bu…ku…” gumamnya pada diri sendiri.

***

“Heri!!” panggil Fahri dari kejauhan sambil berlari ke arah Heri yang berjalan di depannya.. Heri melambaikan tangannya ke belakang.

“Hah..hah..hah…tahu nggak Her, gue dapet anak buah buat ngebantuin gue kerja di CAHAYA PUSTAKA nanti!” kata Fahri girang.

“Yang lebih asyiknya lagi, anak buah gue itu rela uang gajiannya buat gue!! Wuiih bahagia gue!” sambungnya bersemangat. Heri mengerutkan dahinya.

“Emang ada orang sebodoh itu?!”

Kontan saja Fahri sedikit kesal mendengarnya.

“Dasar! ngomong aja lo sirik sama gue!!”

“Siapa sih? Boleh tahu ngak?”

“Ada deh!!” jawab Fahri sok misterius. Fahri meninggalkan Heri yang masih penasaran dengan orang yang dimaksudkan si Fahri. Sebodoh-bodohnya orang nggak mungkin lah dia rela ngasihin uang gajinya begitu saja…kira-kira siapa ya? Katanya dalam hati.

***

“O…jadi ini pekerja barunya?! Baiklah bekerjalah sebagus mungkin, jangan melakukan kesalahan secara keterlaluan! Fahri, aku perlu berbicara denganmu saja dan kau pekerja baru, tunggu disini!” kata bos toko CAHAYA PUSTAKA. Fahri mengikuti kemana pria paruh baya itu pergi.

“Fahri, bukannya apa, tapi saya ragu untuk memperkejakan gadis yang kau bawa tadi, sepertinya dia tidak pernah bekerja keras”

“Memang bos, dia itu putri seorang konglomerat, tapi bos saya kasihan padanya, sebenarnya dia itu baru minggat dari rumahnya, mungkin masalah keluarga, terus, dia datang pada saya, agar saya bisa membantunya, jadi ya…”

“Kamu memang anak yang baik. Kamu juga pekerja yang rajin dan giat, tapi yang dibutuhkan kita adalah pekerja yang rajin, giat, dan pantang mengeluh! Aku tak yakin itu dapat dilakukan oleh pekerja baru kita ini”

“Tapi pak saya yakin bisa, binatang aja kalau dilatih pasti jadi jinak dan patuh pada tuannya, apalagi manusia”

“Kau mau memberi jaminan apa kalau gadis itu bisa bertahan?”

“Saya nggak tahu pak….”

“Baiklah, kalau gadis itu nggak bisa ngerjain tugasnya dengan sempurna , maka kamu akan saya pecat, gimana?!”

“Ng…baiklah…”

“Ya sudah, sana kembali bekerja!”

Fahri keluar dari ruangan yang luas dan dingin tersebut. Fania menyambut Fahri yang keluar dari ruangan bos yang menurutnya cukup menyeramkan.

“Gimana? Apa aku diterima?”

“Lo nggak denger ya, pokoknya lo sekarang kerja aja deh, inget jangan buat kesalahan!! Tugas pertama lo, nempelin label harga ke buku-buku yang bersangkutan, bisa kan?”

“Aduhhh…”

“Aduh kenapa?”

“Nnggak apa-apa kok”

“Ya udah ini labelnya dan…selamat bekerja”

Fania mulai bekerja dengan tugas pertamanya. Ini sih gampang, katanya dalam hati. 30 menit berlalu, nampaknya Fania mulai bosan. Ia meletakkan stiker label yang berada di tangannya ke sebuah tumpukan buku.

“Fahri ada pekerjaan lain nggak? Fania bosan nih!”

“Nggak ada, udah kerjain aja supaya cepet selesai” Jawab Fahri dengan tangan yang makin sibuk menumpuk buku

“Ng…Fahri, apa setiap hari kamu bekerja seperti ini?”

“Iya…”

“Apa kamu nggak ngerasa capek?”

“Iya…”

“Apa kamu nggak bosan”

“Iya…”

“Apa kamu…”

“Stop…stop, diam dan bekerja!, ngapain sih nanya-nanya kayak gitu! Ayo kerja lagi!!”

Fania hanya diam. Ia mencabut salah satu stiker label harga dan menempelkannya ke dahinya.

“Eh… Fahri, lihat Fania, Fania lucu nggak? Jadi inget film-film Vampire di Cina!” kata Fania sambil bergaya seperti Vampir. Fahri melirik sedikit kearahnya. Aduuuuh….ni anak gimana sih?! Kata Fahri dalam hati.

“Aduh Fania! Jangan kayak anak kecil gitu dong!! Ayo lepas, kalo bos tahu bisa-bisa gue dipecat nanti!!” kata Fahri seraya mencabut stiker yang berada di dahi Fania tersebut. Deg! Jantung Fania seakan berhenti berdetak saat Fahri menyentuh dahinya. Fahri-pun terpaku didepannya. Mereka saling berpandangan dalam waktu yang cukup lama. Tiba-tiba Fania tersadar, lalu ia mencabut lagi sebuah stiker dan menempelkannya ke dahi Fahri.

“Ini balasannya kalau ngambil yang bukan miliknya hihihi…wee!!” kata gadis itu jenaka. Fahri yang tersadar dari lamunannya, lalu dengan gemas mencabut satu stiker dan menempelkannya ke hidung Fania.

“Kamu kira aku tak bisa membalas ya?!”

Lalu beberapa saat kemudian mereka asyik berperang menempelkan stiker, hingga…

“Apa-apaan ini?!” terdengar suara lantang yang menggelegar bagai petir di siang hari. Mereka berdua menoleh ke arah pintu yang merupakan sumber suara itu berasal. Astaga!! Sejak kapan bos berdiri disitu?! Kata mereka dalam hati.

“Fahri, kemari kau! Aku ingin bicara dua mata denganmu, dan kau gadis pengacau diam disini!”

Fahri mengikuti kemana bos yang sedang marah besar itu pergi. Brak!!!! Pintu dibanting begitu saja olehnya.

“Aku kecewa padamu Fahri!! Aku benar-benar kecewa, kukira kau salah satu pegawai yang rajin dan giat dalam bekerja keras!!”

“Tapi boss….”

“Ternyata aku salah, kau tetaplah siswa SMA yang tidak bisa apa-apa, benar-benar mengecewakan!”

“Jadi…”

“Kau di pecat!!”

“Tapi boss…”

“Sudahlah, cepat sana pergi, kau tak mau kan jika aku mengusirmu secara tidak terhormat, oya jangan lupa juga bawa gadis kecilmu itu dan didik dia untuk bekerja keras!!”

* Utara Selatan -Short Story-

Utara Selatan

Ahmad rawatib Dzuhur…Ahmad ngajinya 2 juz…Ahmad baca Riyadhus Shalihin ayah…Ahmad jangan suka nonton TV...Ahmad ini...Ahmad itu...aku hampir hapal semua ucapan ayah, yang hampir di katakan padaku tiap harinya. Oya, namaku Ahmad Sobirin, nama udik yang diberikan kedua orang tuaku. Setiap masuk ke kelas baru, hampir semua teman-temanku mentertawakanku.

“Ganteng-ganteng, wajah indo, namanya Ahmad...Sobirin pula...kenapa nggak sekalian Ahmad Sasongko aja...atau Ahmad Siregar?!” ledek salah seorang teman baruku dilanjutkan dengan kikikan beberapa lainnya , saat aku memasuki bangku SMA.

Oya, lupakan nama, toh aku juga tak terlalu memusingkannya. Aku anak kedua dari 3 bersaudara. Saudaraku semuanya perempuan. Kakakku Aisyah, mahasiswi jurusan sastra yang berprestasi kebanggaan ayah. Lalu adikku Nafsah, ‘anak manis’ yang selalu menuruti perintah ayah. Sama sepertiku.

Aku tumbuh dan berkembang di sebuah keluarga, yang bisa di katakan fanatik dengan agama. Ayahku seorang terpandang di kompleks rumahku tinggal. Ibuku, ketua pengajian ibu-ibu RT. Kedua orang tuaku ini benar-benar aktif bila ada acara-acara berbau religius apapun bentuknya. Dirumah, ayah melengkapi isi perpustakaan keluarga dengan bacaan-bacaan tebal seperti, Riyadhus Shalihin, Shahih Muslim, Duratun Nasihin, dan beberapa terjemahan Hadist, dan Al Qur’an dari beberapa penerbit. Ibu selalu stay tune di depan radio, mendengar murratal Qur’an yang dilantunkan seorang ustadzah yang kini mulai naik daun. Ya, begitulah kedua orangtuaku, mereka selalu menyibukkan keseharian mereka dengan kegiatan-kegiatan yang berbau agama. Memang bagus sih, tapi...

***

“Sudah khatam berapa kali nak?” tanya ayah kemudian, jujur, sebenarnya pertanyaan ini yang yang membuatku merasa malas untuk menjawab.

“Ng...” gumamku ragu.

“Berapa kali?”

“Belum yah...aku belum khatam 3 bulanan ini...” ujarku akhirnya, jujur.

Ayah terdiam cukup lama ketika mendengar pengakuanku. Aku gugup tak karuan karenanya. Semoga saja beliau tak marah.

“Kamu ini gimana sih Mad, ayah saja yang lebih tua darimu, bisa mengkhatamkan al Qur’an sebulan sekali. Kamu kok, 3 bulan nggak kelar-kelar...kamu payah Mad!” komentar ayah pedas.

Aku hanya menunduk, mendengarnya.

“Memangnya kamu ngapain aja sih?! Ayah lihat kamu jarang sekali dirumah? Belajar nggak pernah, masak baca Al Qur’an aja nggak khatam-khatam?! Heran ayah sama pikiran kamu!” tandas ayahku, tanpa memberiku kesempatan berbicara.

“Sedikit-sedikit, kamu beralasan ada kegiatan di organisasi...apa? yang ada disekolahmu itu? Rohis ya? Ya...Rohis, tapi masak khatam aja nggak sanggup!” lanjut pria 48 tahunan itu dengan nada mengejek.

Aku, sekali lagi hanya bisa terdiam. Duduk, menatap ayah dengan tatapan kosong. Berusaha terlihat seperti anak manis.

“Ingat Mad, kamu adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini! Harusnya kamu bisa menjadi seorang pemimpin untuk kakak dan adikmu! Bukannya malah malas-malasan seperti ini,” ujar ayah menasihatiku.

Aku mengangguk, mengiyakan.Aku takkan bisa mendebat semua keputusan ayahku, itu kelemahanku yang paling besar. Tak pandai bersilat lidah. Aku paling benci jika harus menghadapi situasi seperti itu. Lebih baik aku diam, dan mengangguk manis daripada harus ngotot-ngotot berbicara.

***

Kami berdua saling tertawa renyah. Aku selalu tertawa bila berada didekatnya, bercerita, bahkan membicarakan masalah pribadi. Namanya Andrian, lengkapnya Andrian Reksa Putra. Ia anak pembantuku, bude Isyah. Dia baru saja pergi dari kampungnya setelah lulus STM, untuk sekedar membantu ibunya yang sudah renta. Umurnya memang 2 tahun lebih tua daripada aku. Tapi, aku sama sekali nggak memasalahkan selisih usia itu. Yang penting bagiku, anaknya asyik diajak ngobrol, udah cukup kok.

“Kamu itu termasuk orang-orang beruntunglah Mad, dibesarkan disebuah keluarga yang mengerti agama, aku kagum sekali pada pakde Ashyari, hebat...kharismanya itu lho...” ujar Andri, dengan nada suara yang masih medok, penuh kekaguman. Aku hanya tersenyum simpul mendengar pujiannya. Ah...kharisma...gumamku dalam hati.

“Pasti kamu bangga ya Mad, punya ayah yang shaleh, ibu yang taat, dan keluarga yang...subhanallah...”

Sekali lagi aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Pasti keluargamu itu termasuk Sakinah, Mawadah, Warohmah, dan Dakwah ya Mad...?” ujar Andri sekali lagi. Aku hanya menaikkan bahuku sebagai jawabannya. Sakinah, mawadah, warahmah, dakwah ya...

***

“Mas, sampein salamku sama mas Andri ya...” ujar Nafsah mengagetkanku. Adikku itu baru menduduki kelas 2 SMP, tapi badannya sudah seperti anak-anak SMA umumnya, tinggi semampai, dengan kulit kuning langsat, dan rambut sebahu yang hitam dan ikal. Cantik.

“Kok centil gitu sih?” tanyaku tanpa melepaskan pandanganku dari buku yang sedang kubaca.

“Siapa yang centil?! Ini namanya usaha Mas, usaha kan nggak salah...” kelitnya.

“Kamu memangnya suka Andri? Ngomong aja sendiri,” jawabku cuek.

“Nggak ah...malu, Mas Ahmad aja sih mediatornya...alias mak comblang,”

Aku menggeleng. Enak aja, giliran begini, selalu saja, Mas tolong ya...Mas bantuin aku...mas aku bingung nih, tapi giliran dapet coklat dari pacar-pacarnya, aduh mas rata-rata coklatnya berkismis...aku buru-buru nih, kapan-kapan aja ya...dan segudang alasan lain yang intinya menolak. Tapi aku nggak begitu ngaruh sih, karena aku juga dapat dari para gadis yang suka padaku. Walau aku tak membalasnya, tapi rejeki...nggak ditolaklah!

Kok jadi ngelantur jauh gini, yah intinya, giliran susah, mulai ngedeket-deket, ngerayu-rayu...tapi pas lagi hepi mendadak kumat deh amnesianya.

“Ya mas ya...ya mas ya...” ujar adikku itu memohon padaku. Geli juga melihatnya memohon seperti itu. Akhirnya aku menganggukkan kepalaku, menyetujui permintaannya. Sinar matanya bersinar senang.

“Makasih ya mas...” ujarnya sambil berlalu meninggalkanku senang.

“Nggak gratis lho, Toblerone 1!” seruku kemudian. Nafsah membalikkan badannya dan mengulurkan lidahnya padaku, aku balas menjulurkan lidahku. Diantara 3 bersaudara, Nafsah memang lebih dekat denganku daripada mbak Aisyah.

***

“Mad udah hafal berapa juz?” tanya ayahku, sambil menyirami tanaman bunganya. Aku yang sebelumnya sibuk mengonsep susunan Acara untuk PHBI minggu depan di sekolahku, terpaksa menghentikan kegiatanku itu.

“Ng...belum yah...baru hafal sampai Asy-Syams...itu juga patah-patah, suka lupa-lupa inget...” jawabku gugup.

Ayah masih menyirami tanaman dipotnya tanpa berbicara sepatah katapun.

“Asy-Syams ya...sehari menghafal berapa ayat? Masak dari dulu Asy-Syams saja...nggak maju-maju...”

Akhirnya komentar pedas yang sebenarnya sama sekali nggak aku tunggu keluar juga.

“Ingat nak, kamu itu satu-satunya anak laki-laki yang ayah dan ibumu punya, kamu akan menjadi pemimpin bagi kakak dan adik-adikmu...”

Lalu ceramah panjang lebar ayahpun dimulai. Kepalaku mulai berdenyut. Aku hanya diam, mentap ayah kosong. Semua nasihat ayah yang di include ke dalam telingaku, ternyata hanya ‘numpang lewat’ dan keluar kembali dan menguap tak berbekas. Aku bosan, setiap hari hanya memakan nasihat-nasihat yang sama dan membosankan.

***

“Pasti enak punya orangtua shaleh, setiap tindak-tanduk kita selalu terkontrol, nggak perlu repot-repot mengontrol diri sendiri...” ujar Andri sekali lagi. Mata coklat jernihnya menatap angkasa penuh kekaguman. Aku hanya tersenyum sinis mendengarnya.

“Iya kan Mad, kamu setuju dengan pendapatku kan?” tanyanya padaku.

“Kalau menurutku, kontrol diri itu tetap dibutuhkan, nggak selamanya orangtua akan mengontrol kita bukan?” ujarku kemudian, mataku juga sedang terpaku melihat indahnya biru langit.

“Iya, tapi...setidaknya, mereka bisa mengarahkan kita ke jalan yang di ridhoi sama Gusti Allah, ndak seperti ibuku...walaupun sekarang beliau sudah mulai berubah...” jawab Andri kemudian.

“Ndri...Andri...nggak semua yang kita bayangkan itu sesuai dengan kenyataan yang ada...” ujarku tanpa melepaskan pandanganku ke arah langit yang semakin biru, karena awan-awan yang mulai bergerak meninggalkannya.

“Maksudnya apa? Aku nggak ngerti...” ujar Andri penuh tanda tanya. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

***

Apa ini yang dinamai keluarga sakinah? Dimana seorang anak tak diberi hak untuk menyampaikan pendapatnya? Dimana seorang anak, hanya harus menjalankan apa yang dikatakan oleh kedua orangtuanya, tanpa boleh mencari kenapa ia harus melaksanakan itu semua? Apa ini yang dinamakan keluarga mawadah? Dimana seorang anak mendapatkan beribu teori tentang keagamaan dan kasih sayang, namun dalam penyampaiannya banyak sekali menyakiti hati dan membuat luka jiwa...

Jawablah wahai saudaraku, apa aku salah jika aku bertanya seperti itu? Karena itulah yang kualami. Didalam sebuah keluarga bernuansa islami, aku terkungkung dalam tekanan tanggung jawab yang kuemban. Begitu beratnya hingga aku tak sanggup lagi, hingga aku tertatih menghadapinya...aku capek, aku penat, aku lelah, aku benci dengan semua kebohongan ini, maafkan aku ayah tersayang, ampuni aku ibunda tercinta, tapi aku merasa cukup dengan segala khianat yang kulakukan dibelakang kalian. Dan aku akan mengakhirinya, segera...

***

Aku harus menenangkan ibu untuk kesekian kalinya. Ibu sudah pingsan untuk ke-3 kalinya. Kenyataan pahit yang melandanya memang cukup berat untuk di tumpu seorang diri. Ayah, dengan wajah bijaknya, beristighfar di ujung lorong rumah sakit. Penyesalan dan kekecewaan terlukis di wajah tuanya yang sudah di penuhi keriput. Duhai ayah, kasihan sekali dirimu, di ujung senja usia, di timpa bencana yang begini hebat dan tak disangka-sangka, Nafsah menangis tersedu diduduknya. Dan aku hanya menatap kaca bening yang memperlihatkan sosok wanita yang terbaring sekarat. Kakakku. Aisyah. Ia yang sedang terbaring disitu dengan jarum infus yang tertancap di ujung tangannya dan selang oksigen yang diselipkan di sela kedua lubang hidungnya. Wajahnya pucat, menyiratkan rasa sakit yang menggerogotinya. Rasa sakit saat Sakaw. Kakakku OD. Ditemukan dalam keadaan sekarat di sebuah diskotek...sungguh malang nasibmu kakakku, jalan inikah yang kau titi...padahal kaulah harapan kedua orang tua kita. Kau lah yang selalu dibangga-banggakan oleh mereka. Kaulah mutiara yang indah diantara perunggu dan perak dalam keluarga kita. Kakakku masih terbaring disana. Dadanya bergerak naik turun pelan sekali, seakan-akan susah baginya untuk menghirup oksigen yang tersebar di ruangan dingin tersebut. Sekali lagi aku tertegun. Sedih. Geram. Dan kecewa.

***

“Gimana kabar mbak Aisyah?” tanya Andri padaku.

“Alhamdulillah, keadaannya sudah membaik, beliau sudah bisa berbicara dan bergerak seperti biasanya, tapi...secara mental...ia cacat. Kakakku cacat mental..”

Suara Andri mengucapkan kalimat Thayyibah terdengar lirih di telingaku.

“Maaf ya Mad, aku nggak bisa datang menjenguk, saat itu aku masih diluar kota mengemban tugas yang diberikan ayahmu...” ujarnya sambil menepuk bahuku.

“Ah...nggak apa-apa kok Ndri...” kataku dengan menyunggingkan senyuman terpaksa.

“Saya nggak habis pikir, apa motivasi mbak Aisyah sampai nekat seperti itu...” ujar Andri pada dirinya sendiri.

“Karena cowok, Kak Aisyah melakukan itu semua karena kekecewaannya pada seorang pria yang diidam-idamkannya, kubaca dari Diary-nya, kakakku sangat kecewa saat mengetahui pria idamannya menikah dengan temannya. Sampai-sampai ia melakukan hal bodoh itu...” jawabku tanpa ditanya.

Dan aku pun tahu, kakak menjadi shalih, pintar dan alim juga bukan karena kepahamannya akan semua doktrin yang ayah cekokkan pada kami. Tapi karena ingin mendapatkan cinta dari pria idamannya itu. Sungguh tak disangka.

“Mencoba bunuh diri karena seorang cowok...seperti nggak ada cowok lain saja...” gumam Andri pelan. Aku hanya terdiam mendengar komentarnya. Memang bodoh sekali kakakku itu. Benar kata Andri, seperti tidak ada pria lain yang lebih baik daripada pria idamannya itu saja.

***

Kuhabiskan sepertiga malamku dengan tangisan panjang diantara sujudku. Kulepaskan semua beban yang bersandar di pundakku. Terdengar suara pintu kamarku diketuk. Aku mengakhiri semua keluh kesahku padaNya. Dan beranjak kearah pintu kamar, lalu membukanya.

Didepanku Nafsah menangis, dengan baju minim bahan dan make up belepotan di wajah cantiknya, ia berlari memelukku. Aku berusaha menenangkannya, membimbingnya menjauhi pintu kamarku.

Kini aku dan Nafsah sudah terduduk di dipan empuk di dalam kamarku. Nafsah masih tergugu di dadaku.

“Ada apa? Kenapa kamu menangis? Kamu darimana? Ada apa dengan pakaianmu?” tanyaku bertubi-tubi saat Nafsah mulai bisa mengendalikan tangisnya. Terisak Nafsah mulai menceritakan apa yang terjadi malam itu. Malam itu adalah malam ulang tahun kekasihnya, kekasih Nafsah sudah duduk di bangku SMA. Malam itu mereka merayakannya di hotel berbintang lima. Nafsah yang datang--dengan diam-diam menyelinap pergi dari rumah-- menjadi tamu paling agung di pesta yang rata-rata di hadiri oleh teman si pria. Di tengah pesta, Nafsah di beri minuman yang aneh rasanya, Nafsah sebenarnya sudah berusaha menolaknya. Tapi sang kekasih mendesaknya. Akhirnya dengan embel-embel rasa kasih sayang dan cinta, Nafsah meminum air yang mencurigakan itu. Tak berapa lama Nafsah tak ingat apa-apa lagi. Ketika ia siuman dari pingsannya. Disampingnya sang kekasih sudah duduk tanpa mengenakan apapun... Nafsah baru terkejut. Ia menangis sejadi-jadinya.

Aku membanting bantal yang sedari tadi kupegang. Wajahku memerah karena amarah yang memuncak. Berani-beraninya menyakiti adik kesayanganku?! Cukup hanya kakakku yang tersiksa oleh makhluk bernama pria, takkan kubiarkan adikku merasakan keputusasaan yang sama. Aku beranjak dari dudukku penuh amarah. Mengambil kunci motor yang tergantung, dan berjalan meninggalkan adikku yang masih tersedu.

***

Kutancap gas motorku kencang-kencang. Nafsah bilang, pria brengsek itu masih di hotel tempat ia menodai emas putihku yang cantik. Sialan, akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri. Tekadku sudah bulat, akan kuhajar laki-laki sialan itu sampai ia pun tak bisa merasakan jarinya!

Silau lampu, membuatku memicingkan mata. Terlambat, sebuah mini bus menabrak motorku yang melaju kencang. Braakk!! Aku merasakan tubuhku melambung tinggi sekali, lalu...kepalaku membentur lapisan aspal yang keras dan aku tak ingat apa-apa lagi.

***

Samar kudengar isak tangis ibu dan Nafsah. Aku merasakan sekujur tubuhku di balut kasa. Sakit rasanya. Oooh...inikah rasanya saat menunggu maut yang akan menjemput. Sakit, sakit sekali.

“Naf...saah..” erangku susah payah, bahkan mengerangpun aku kesusahan. Nafsah yang tersedu mendekatiku.

“Kakak...kakak...maafin Nafsah kak...” ujarnya diantara air mata yang menganak sungai.

“Iya dik...maafin kakak juga ya...ibuu...aku...aku minta maaf...maafkan aku ibu...ayah juga...maafkan aku...maafkan anakmu yang durhaka ini...” ucapku terbata-bata.

Kulihat sekilas dari ekor mataku. Andri sibuk menenangkan ayah yang shock. Aku tersenyum, tampaknya ayah sudah menemukan pengganti yang lebih baik dariku. Aku dapat melihat malaikat Izrail yang siap-siap menjemputku. Tersenyum ku menatap keluargaku terakhir kalinya. Samar kudengar bunyi mesin yang mendeteksi detak jantung berbunyi ‘tiiit’ lama sekali. Samar..samar...hingga tak terdengar sama sekali...

Selesai